Monday, March 04, 2013

Guru bukan Dewa, Murid bukan Kerbau


Dewasa ini, perkembangan teknologi semakin pesat sehingga memengaruhi kehidupan manusia di segala macam aspek. Salah satunya yang tak luput dari kemajuan teknologi adalah dunia pendidikan. Pendidikan memiliki peran yang sangat penting dalam kehidupan manusia, terlebih lagi di zaman yang telah di moderenisasi oleh teknologi ini. Namun tanpa kita sadari, kemajuan teknologi telah membawa kemunduran bagi dunia pendidikan apabila tidak diiringi oleh peningkatan kualitas sumber daya manusia.
                ‘Guru bukan dewa dan siswa bukan kerbau’ menjadi cerminan dunia pendidikan yang sering kita jumpai dikalangan para paelajar. Hal ini disebabkan oleh berbagai macam faktor. Faktor- faktor tersebut antara lain adalah:
1.       Tingginya fasilitas kelas.
Fasilitas kelas yang dimaksudkan untuk memaksimalkan kegiatan belajar mengajar ternyata memiliki dampak buruk, yaitu menyebabkan kemalasan. Seperti diketahui, guru- guru zaman sekarang menerangkan dengan bantuan laptop dan LCD, padahal tingkat pemahaman setiap peserta didik berbeda- beda. Disadari atau tidak, ketika guru menjelaskan hanya dengan spidol boardmaker, papan tulis, dan tulisan manual, akan lebih memberi pemahaman penuh pada muridnya. Terutama untuk pelajaran eksakta seperti matematika, fisika, dan kimia. Akan jauh lebih mudah menyerap pelajaran secara manual.

2.       System pengajaran yang berubah
Masih berkaitan dengan fasilitas kelas, LCD dan laptop secara tidak langsung membentuk system kegiatan belajar mengajar baru. Presentasi powerpoint pastilah bukan hal yang asing bagi kalangan pelajar masa kini. Setiap guru memberi pekerjaan rumah membuat powerpoint, dimaksudkan agar para murid belajar. Namun yang terjadi adalah presentasi dibuat dengan sekenanya melalui copy- paste internet, bahkan dibaca pun mungkin tidak. Pendapat guru, para murid yang sudah presentasi, sudah menguasai materi, pertemuan berikutnya ulangan, padahal murid belum menyerap ilmu sama sekali.

3.       Pekerjaan rumah yang menumpuk
Sesuai perkembangan kurikulum penidikan, banyak materi pelajaran yang harus dikuasai murid dalam kurun waktu yang terlalu singkat. Guru pun mengejar target untuk segera menghabiskan materi yang sangat banyak tersebut. Akibatnya, pekerjaan rumah pun menjadi alternative setiap guru untuk kejar materi. Padahal, dalam sehari murid mendapat 4- 7 mata pelajaran. Tentu saja hal ini memberatkan murid.

4.       Pergaulan bebas
Sudah bukan tabu lagi jika para remaja dewasa ini banyak terjerat pergaulan bebas. Mulai dari suka nongkrong tidak jelas juntrungannya, hingga seks bebas, hamil di luar nikah, dan narkoba puncaknya. Guru sebagai orang tua kedua di luar rumah tentu saja merasa memiliki beban berat untuk meluruskan muridnya. Dampaknya, sedikit kesalahan dari murid bisa menyebabkan guru marah berlebihan, sehingga guru pun semakin dianggap otoriter dan kejam.

Sebenarnya sebagian faktor diatas adalah cabang dari kemalasan sehingga guru dianggap sebagai momok yang mengerikan dan semena- mena terhadap murid. Namun persoalan kemalasan ini secara tidak langsung telah mebodohkan generasi masa kini.
Maka dari itu alangkah baiknya jika seorang siswa diberi kesadaran secara personal akan pentingnya belajar, dan diberi pemahaman bahwa nilai bagus adalah nomor satu. Karena hal ini menyebabkan penghalalan mencontek dan kerja sama, yang lagi- lagi berujung kebodohan.
Perombakan system mengajar juga diperlukan, agar pengajar sendiri tidak terlenakan oleh teknologi, dan dapat merubah main set para siswa bahwa nilai bagus adalah segalanya, tapi yang terpenting adalah kepahaman dan kejujuran.